Minggu, 06 November 2016

Franchise kursus


Keajaiban Doa Seorang Guru

Hasil gambar untuk gambar kartun guru berdoa

    Para orangtua yang berbahagia, bersama seorang di suatu sekolah di Bogor, saya sering mendiskusikan berbagai macam permasalahan dan perilaku anak di sekolah tersebut. Mulai dari yang ringan hingga terkadang agak berat.

     Suatu ketika sang guru menceritakan tentang seorang muridnya yang sangat sulit dididik dan diajar. "Anak ini terlihat agak lambat menerima pelajaran", katanya. "Beberapa kali kita coba cara yang kira-kira tepat untuk membantu anak ini. Namun, sepertinya belum membuahkan hasil yang membahagiakan".

       Beberapa waktu berlalu, saya masih sering berkomunikasi dan terus berusaha membantu si murid agar bisa menjadi lebih baik. Namun, berbagai cara telah dicoba ternyata belum berhasil juga.
Kali ini rupanya kami berdua sedang diuji oleh Tuhan. Setelah lebih dari satu tahun berselang, saya bertemu lagi dengan ibu guru tersebut. Dia bercerita dengan wajah yang berbinar-binar, bahwa dia telah berhasil membuat kemajuan yang berarti bagi muridnya itu.

       Wah, saya juga jadi ikut bahagia mendengar berita baik itu.
Namun, saya jadi penasaran metode apa yang telah ditemukan oleh si ibu gurru tadi sehingga dia berhasil membuat muridnya menjadi lebih baik dan berprestasi lebih bagus.

Dengan penuh rasa penasaran saya bertanya kepadanya "Ibu, bagaimana caranya sampai berhasil?"

     "Begini, Ayah. Suatu malam saat saya sedang beribadah, saya teringat murid saya itu. Seketika itu saya coba membayangkan wajahnya baik-baik ... lalu perlahan-lahan saya mengadukan hal ini kepada
Tuhan. Saya berkata, ya Tuhan ... kami sudah berupaya keras untuk membuat anak ini menjadi lebih baik, kami sudah menggunakan berbagai macam cara untuk membantunya, tapi toh kami belum berhasil juga. Kami sudah tidak tahu lagi harus melakukan apa. Ya Tuhan, tolonglah kami, kami hanya ingin anak ini menjadi lebih baik. Kemudian saya bersujud sambil menitikkan air mata berharap supaya permohonan saya dikabulkan".

   "Seandainya di negeri ini ada lebih banyak guru yang begitu mencintai muridnya dan mau mendoakan muridnya secara sungguh-sungguh".

    Lalu ibu guru itu melanjutkan, "Sungguh di luar dugaan, keesokan harinya mulai terjadi perubahan dan peningkatan yang sangat signifikan terhadap kemampuan belajar si anak. Saya bukan main girangnya. Betapa begitu banyak misteri dalam diri anak kita yang masih belum berhasil kita ketahuilah dan begitu banya misteri dalam diri murid kita yang belum berhasil dikupas oleh pengetahuan. Namun ternyata, tidaklah demikian bagi Tuhan. Segala yang tidak mungkin bagi kita, selalu mungkin bagi Tuhan".

     Para orangtua, saya sungguh terharu mendengarkan penuturan sang ibu guru tadi. Tak sadar air mata saya pun menitik membasahi pipi. Lalu, pada malam harinya dalam sujud kepada Tuhan saya merenung. Wahai Tuhan, seandainya saja di negeri ini ada lebih banyak guru yang begitu mencintai muridnya dan mau mendoakan muridnya secara sungguh-sungguh, saya yakin sebesar apa pun persoalan yang kita hadapi akan mampu kita pecahkan ... tentunya dengan izin dan kekuatan-Mu, Tuhan.[]


Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books (PT Mizan Publika) 2013

Franchise Pendidikan Anak

Pesan Orang Bijak dalam Mendidik Anak
Hasil gambar untuk gambar kartun membimbing anak

 

  Para orang tua dan guru yang saya cintai, seorang bijak pernah berpesan, "Didiklah anak-anakmu sesuai  karena mereka akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zaman kalian dulu hidup.

      Pesan ini memiliki makna yang begitu mendalam, mengapa?
Karena kita kerap membanding-bandingkan masa lalu kita untuk menjadi sesuatu yang harus ditiru oleh anak-anak kita. Kita sering lupa bahwa zaman sudah berubah. Pendidikan pada zaman Kartini dibesarkan tentunya tidak cocok lagi diterapkan pada zaman kita dibesarkan., demikian pula dengan zaman anak kita. Dia membutuhkan cara-cara pendidikan baru yang sesuai zamannya.

      Jika ingin anak-anak kita maju, tentunya kita juga harus mengajak mereka untuk selalu melihat ke depan, dan bukan sebaliknya. Apa yang terjadi jika seseorang berjalan ke depan, tetapi selalu diajak menengok ke belakang?

     Hampir semua anak, mulai usia prasekolah hingga remaja sering kali membuat masalah, betapa pun sempurnanya orangtua mereka. Mengapa? Karena pada awalnya, seorang anak memiliki keinginan sendiri yang lahir  secara naluriah sebagaimana juga orangtua mereka. Masalah itu mulai muncul manakala keinginan dasar anak secara naluriah tersebut bertentangan dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orang-orang dewasa.

      Contoh paling sederhana adalah pada kasus anak usia belita. Secara naluriah, seorang bayi punya keinginan insitingtif untuk memasukkan segala sesuatu yang dipengangnya  kedalam mulut . Namun ternyata, keinginan tersebut di mata orangtuanya yang dimasukkan ke mulutnya  adalh benda-benda kotor atau mungkin beracun. Jadilah orangtuanya kerap kali brteriak-teriak untuk melarang anaknya memasukkan benda ke mulut. Padahal belakangan diketahui oleh para ahli bahwa sesungguhnya memasukkan sesuatu ke mulut berguna untuk  melatih indra perasa si bayi.

     Seandainya saja kita para orangtua mengetahui adanya kebutuhan dasar yang alamiah ini, mungkin kita tidak akan memberikan reaksi terlalu berlebihan bagi perilaku anak-anak kita  yang dianggap kurang patut tadi.

"Kerap kali orangtua malah melakukan  intervensi berlebihan yang justru melukai perasaan si anak dan bukan mendidiknya untuk menjadi lebih baik".

        Perbedaan keinginan dasar anak dengan nilai-nilai kepatutan orang dewasa ini terus berlangsung mulai usia mereka balita hingga dewasa. Namun sayangnya, kebanyakan orangtua tidak menyadari jika anak-anak mereka membutuhkan waktu untuk bisa menyesuaikan antara keinginan-keinginan dasar mereka sendiri dengan nilai-nilai kepatutan yang dianut oleh orangtuanya. Kerap kali kita bukannya memberikan pemahaman yang baik pada anak hingga dia benar-benar memahami apa yang diharapkan orangtuanya,  malah melakukan intervensi yang berlebihan, seperti dalam bentuk bentakan, teriakan, cubitan, atau bahkan mungkin pukulan. Sering kali hal ini justru melukai perasaan si anak dan bukan mendidiknya untuk menjadi lebih baik.

     Jika para orangtua tidak segera menyadari kesalahannya, hal ini akan berakibat fatal. Proses mendidik anak akan terasa sangat berat dan selalu dipenuhi  dengan pertengkaran yang semangkin hari semangkin parah.

       Ketahuilah bersama bahwa masa depan anak = (adalah) masa depan bangsa, dan masa depan anak yang sukses bergantung sepenuhnya pada kemampuan para orangtua untuk mendidik anak-anaknya secara tepat. Mari kita mulai belajar mejadi orangtua yang baik dan mari kita bangun Indonesia yang kuat melalui anak-anak kita tercinta.

          Let's Make Indonesian Strong From Home 
          Kalau bukan kita siapa lagi, kalau bukan sekarang kapan lagi?[]


   
Keterangan : Buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Noura Books ( PT Mizan Publika) 2013 

Bisnis Franchise

Mencetak Generasi Elang

Hasil gambar untuk gambar kartun  anak prestasi
      Suatu ketika ada seorang pemburu sedang menembak seekor elang yang bertengger di atas pohon. Tembakannya tepat mengenai sasaran, tetapi sayangnya sang elang tersangkut di atas pohon hingga sang pemburu harus memanjat untuk mengambilnya. Setelah sampai di atas, dia begitu terperanjat demi mengetahui elang yang ditembaknya ternyata sedang mengerami dua butir telur.

     Dengan penuh penyesalan akhirnya elang dan telurnya dia bawa pulang. Elang tersebut tidak jadi dimakan melainkan dikuburkannya di samping rumah. Sementara dia masih bingung memikirkan telur tersebut harus diapakan. Aha! Dia ingat, di belakang rumah ada seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Lalu dengan segera dia menyelinap dan menitipkan telur elang tersebut bersama telur ayam lainnya untuk ikut dierami.

    Tibalah saat telur-telur itu menetas, betapa bahagia sang induk ayam mendapati semua telurnya menetas. Cuma dia agak heran melihat ada dua anaknya yang berpenampilan agak sedikit berbeda, wajahnya agak keras, suka teriak-teriak, tidak sabaran, dan badannya agak lebih besar. Namun tak apalah, aku akan besarkan mereka semua dengan baik, pikirnya.

    Ketika anak-anak ayam mulai tumbuh besar, induknya merasa bingung melihat kedua anaknya yang dulu agak berbeda itu.
Sekarang, mereka memiliki kebiasaan yang juga berbeda. Jika saudaranya mudah sekali diajari untuk mencakar-cakar mencari makan, anak yang dua ini malah lebih suka melompat-lompat. Kerap kali si induk ayam harus memarahi kedua anaknya ini. Suatu ketika kedua anak itu melihat burung yang terbang tinggi melayang-layang di angkasa. Lalu anak-anak ini berkata pada induknya bahwa mereka ingin bisa terbang seperti burung-burung tersebut.

     "He .... sudah-sudah. Kamu ini anak ayam, mana mungkin bisa terbang. Enggak usah mimpi untuk bisa terbang, deh. Mendingan kamu belajar cakar-cakar tanah seperti saudara-saudaramu, biar nanti kamu bisa jadi ayam yang sukses," ujar si induk ayam.

    Namun, anaknya tetap ngotot untuk belajar terbang. Berkali-kali dicoba dan berkali-kali mereka jatuh dan jatuh lagi, "Tuh, apa Mama bilang. Jatuh! Kamu, sih enggak mau mendengarkan omongan Mama".

     Lalu kedua anak itu mencoba untuk melawan dengan berkata, "Tapi, aku ingin sekali bisa terbang tinggi seperti burung-burung itu, Ma!".

    "Sudah-sudah, kamu itu keturunan ayam. Tempat kamu ya di tanah. Kamu enggak akan mungkin bisa terbang, apa lagi setinggi burung-burung itu. Ayo, kita cakar-cakar lagi ... yuk". Hingga suatu ketika toba-tiba sang induk ayam berteriak-teriak kepada anaknya.

     "Sembunyi ... ayo cepat sembunyi! Ada burung elang!"
Segeralah sang induk dan anak-anaknya sembunyi kecuali kedua anak tadi.

     Jreng ... tibalah seekor elang besar bertengger di dekat kedua anak tadi. Lalu sang elang bertanya, "Heh, ke mana saudara-saudaramu yang lain?"
      "Oh, mereka semua sembunyi ketakutan".
      "Lho, kamu kok enggak?"
     "Oh iya. Karena aku tidak takut, justru aku ingin bertanya apakah aku bisa terbang seperti kamu". Sejenak sang elang besar tadi mengerutkan dahinya sambil memperhatikan kedua anak itu. Lalu dia menjawab, "Saya yakin kamu pasti bisa, kamu punya sayap, kamu punya bulu dan ekor yang bagus, tapi yang jauh lebih penting adalah kamu berdua punya keberanian dan keinginan yang kuat".

"Kita lebih banyak melahirkan generasi-generasi "ayam" daripada mencetak generasi "elang" yang mampu terbang tinggi di angkasa dan bertengger dengan gagahnya di tempat-tempat tertinggi di dunia "

     Bukan main girangnya kedua anak ini. Di bawah bimbingan sang elang besar, mulailah mereka belajar terbang. Jatuh terbang lagi, jatuh lagi, terbang lagi hingga akhirnya berhasil membumbung tinggi di udara. Kini jadilah kedua anak ayam kembali menjadi elang yang sesungguhnya.

     Para orangtua dan guru yang berbahagia, begitulah kita pada umumnya. Manakala memiliki anak atau siswa yang agak berbeda dari anak-anak lain, bukannya mendorong dan memotivasi mereka untuk bisa mencapai potensi terbaik yang dimilikinya, kita malah sering kali mematahkan semangatnya.
Bahkan yang jauh lebih buruk lagi, kita sering menganggap anak-anak yang berbeda sebagai anak bermasalah!

    Para orangtua dan guru yang saya cintai, mungkin itulah sebabnya mengapa kita lebih banyak melahirkan generasi-generasi "ayam" yang hanya pandai menggali kotoran dan berebut makanan di antara sesama mereka, daripada mencetak generasi "elang" yang mampu terbang tinggi di angkasa dan bertengger dengan gagahnya di tempat-tempat tertinggi yang ada di dunia,[]


Keterangan : Dia ambil dari buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Naoura Books (PT Mizan Publika) 2013