Minggu, 06 November 2016

Bisnis Franchise

Mencetak Generasi Elang

Hasil gambar untuk gambar kartun  anak prestasi
      Suatu ketika ada seorang pemburu sedang menembak seekor elang yang bertengger di atas pohon. Tembakannya tepat mengenai sasaran, tetapi sayangnya sang elang tersangkut di atas pohon hingga sang pemburu harus memanjat untuk mengambilnya. Setelah sampai di atas, dia begitu terperanjat demi mengetahui elang yang ditembaknya ternyata sedang mengerami dua butir telur.

     Dengan penuh penyesalan akhirnya elang dan telurnya dia bawa pulang. Elang tersebut tidak jadi dimakan melainkan dikuburkannya di samping rumah. Sementara dia masih bingung memikirkan telur tersebut harus diapakan. Aha! Dia ingat, di belakang rumah ada seekor induk ayam yang sedang mengerami telurnya. Lalu dengan segera dia menyelinap dan menitipkan telur elang tersebut bersama telur ayam lainnya untuk ikut dierami.

    Tibalah saat telur-telur itu menetas, betapa bahagia sang induk ayam mendapati semua telurnya menetas. Cuma dia agak heran melihat ada dua anaknya yang berpenampilan agak sedikit berbeda, wajahnya agak keras, suka teriak-teriak, tidak sabaran, dan badannya agak lebih besar. Namun tak apalah, aku akan besarkan mereka semua dengan baik, pikirnya.

    Ketika anak-anak ayam mulai tumbuh besar, induknya merasa bingung melihat kedua anaknya yang dulu agak berbeda itu.
Sekarang, mereka memiliki kebiasaan yang juga berbeda. Jika saudaranya mudah sekali diajari untuk mencakar-cakar mencari makan, anak yang dua ini malah lebih suka melompat-lompat. Kerap kali si induk ayam harus memarahi kedua anaknya ini. Suatu ketika kedua anak itu melihat burung yang terbang tinggi melayang-layang di angkasa. Lalu anak-anak ini berkata pada induknya bahwa mereka ingin bisa terbang seperti burung-burung tersebut.

     "He .... sudah-sudah. Kamu ini anak ayam, mana mungkin bisa terbang. Enggak usah mimpi untuk bisa terbang, deh. Mendingan kamu belajar cakar-cakar tanah seperti saudara-saudaramu, biar nanti kamu bisa jadi ayam yang sukses," ujar si induk ayam.

    Namun, anaknya tetap ngotot untuk belajar terbang. Berkali-kali dicoba dan berkali-kali mereka jatuh dan jatuh lagi, "Tuh, apa Mama bilang. Jatuh! Kamu, sih enggak mau mendengarkan omongan Mama".

     Lalu kedua anak itu mencoba untuk melawan dengan berkata, "Tapi, aku ingin sekali bisa terbang tinggi seperti burung-burung itu, Ma!".

    "Sudah-sudah, kamu itu keturunan ayam. Tempat kamu ya di tanah. Kamu enggak akan mungkin bisa terbang, apa lagi setinggi burung-burung itu. Ayo, kita cakar-cakar lagi ... yuk". Hingga suatu ketika toba-tiba sang induk ayam berteriak-teriak kepada anaknya.

     "Sembunyi ... ayo cepat sembunyi! Ada burung elang!"
Segeralah sang induk dan anak-anaknya sembunyi kecuali kedua anak tadi.

     Jreng ... tibalah seekor elang besar bertengger di dekat kedua anak tadi. Lalu sang elang bertanya, "Heh, ke mana saudara-saudaramu yang lain?"
      "Oh, mereka semua sembunyi ketakutan".
      "Lho, kamu kok enggak?"
     "Oh iya. Karena aku tidak takut, justru aku ingin bertanya apakah aku bisa terbang seperti kamu". Sejenak sang elang besar tadi mengerutkan dahinya sambil memperhatikan kedua anak itu. Lalu dia menjawab, "Saya yakin kamu pasti bisa, kamu punya sayap, kamu punya bulu dan ekor yang bagus, tapi yang jauh lebih penting adalah kamu berdua punya keberanian dan keinginan yang kuat".

"Kita lebih banyak melahirkan generasi-generasi "ayam" daripada mencetak generasi "elang" yang mampu terbang tinggi di angkasa dan bertengger dengan gagahnya di tempat-tempat tertinggi di dunia "

     Bukan main girangnya kedua anak ini. Di bawah bimbingan sang elang besar, mulailah mereka belajar terbang. Jatuh terbang lagi, jatuh lagi, terbang lagi hingga akhirnya berhasil membumbung tinggi di udara. Kini jadilah kedua anak ayam kembali menjadi elang yang sesungguhnya.

     Para orangtua dan guru yang berbahagia, begitulah kita pada umumnya. Manakala memiliki anak atau siswa yang agak berbeda dari anak-anak lain, bukannya mendorong dan memotivasi mereka untuk bisa mencapai potensi terbaik yang dimilikinya, kita malah sering kali mematahkan semangatnya.
Bahkan yang jauh lebih buruk lagi, kita sering menganggap anak-anak yang berbeda sebagai anak bermasalah!

    Para orangtua dan guru yang saya cintai, mungkin itulah sebabnya mengapa kita lebih banyak melahirkan generasi-generasi "ayam" yang hanya pandai menggali kotoran dan berebut makanan di antara sesama mereka, daripada mencetak generasi "elang" yang mampu terbang tinggi di angkasa dan bertengger dengan gagahnya di tempat-tempat tertinggi yang ada di dunia,[]


Keterangan : Dia ambil dari buku Ayah Edy, Judul : Punya Cerita, Penerbit : Naoura Books (PT Mizan Publika) 2013 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar